Archive for the 'WISATA' Category

06
Jun
08

Kronologis Kisah Filu, Cagar Alam Cibanteng

Cagar Alam (CA) Cibanteng terletak di wilayah desa Cibenda Kecamatan Ciemas Kabupaten Dati II Sukabumi, Propinsi Dati I Jawa Barat. Berdasarkan organisasi pengelolaannya termasuk ke dalam wilayah kerja Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Cibanteng, Sub Seksi KSDA Sukabumi, Sub Balai KSDA Jawa Barat I, Balai KSDA III.

Kawasan CA Cibanteng ditunjuk berdasarkan Gouvernment Besluit (GB) Nomor : 3 Stbl 243 Tanggal 20 Mei 1925 seluas 447 ha. Kawasan cagar alam ini berada dalam satu kesatuan ekosistem dengan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh (± 8.127,50 ha), yang mengelilingi kawasan Cagar Alam dari sebelah selatan hingga barat laut.

Pada awalnya penunjukan CA Cibanteng ditujukan untuk kepentingan perlindungan dan pengawetan fauna (Banteng dan Rusa), hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pada saat penunjukan keadaan kawasan masih merupakan hutan primer dengan ekosistem yang utuh serta memiliki potensi sumber daya alam hayati yang bernilai tinggi. Selain untuk kepentingan tersebut diatas kawasan CA Cibanteng juga berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan.

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk serta semakin berkembangnya kebutuhan akan sumber daya alam oleh masyarakat, telah menimbulkan tekanan yang semakin tinggi pula terhadap keutuhan kawasan CA Cibanteng.

Beberapa tekanan yang terjadi antara lain : pencurian hasil hutan berupa kayu dan bambu yang semakin tidak terkendali, perburuan liar, pembukaan lahan dan lainlain.

Kegiatan kegiatan ini telah menimbulkan dampak rusaknya ekosistem di beberapa bagian kawasan yang menyebabkan kurang optimalnya fungsi kawasan sebagai cagar alam.

Berdasarkan pertimbanganpertimbangan tersebut diatas, dianggap perlu untuk melakukan pengkajian kembali terhadap potensi kawasan dan perkembangan yang terjadi melalui kegiatan evaluasi fungsi kawasan. Dari hasil evaluasi ini diharapkan akan diperoleh alternatif upaya penyelesaian permasalahan melalui pengembangan fungsi kawasan sehingga pengelolaan dan pembinaan di masa mendatang dapat lebih efektif dan efisien.

Dowload file peneltian selengkapnya dalam bentuk Pdf

30
Mei
08

Pariwisata Pelabuhan Ratu Mulai Menggeliat

Bisnis pariwisata di Pelabuhan Ratu, Jabar, mulai menggeliat menyusul semakin besarnya kepercayaan wisatawan nusantara (Wisnu) dan manca negara (Wisman) berkunjung ke sana.

Asisten Acounting Samudra Beach Hotel Inna (SBHI), Pelabuhan Ratu, Noviarsyah, ketika dihubungi di Jakarta, Selasa, mengatakan tingkat hunian SBHI mulai meningkat setelah dalam tiga pekan pertama pasca tsunami di Manggroe Aceh Darusalam (NAD) sempat anjlok, termasuk di saat malam menjelang tahun baru.

Pasca tsunami di NAD dan sebagian Sumut muncul ketakutan dari Wisnu untuk tidak berekreasi ke pesisir pantai. Terlebih lagi muncul isu bahwa tsunami juga terjadi di pesisir barat pantai Jawa.

Memasuki minggu ke empat pasca tsunami kekhawatiran mulai hilang. Jika pada akhir pekan pada minggu ke tiga pasca tsunami tingkat hunian hotel SBHI hanya 3%, memasuki minggu ke empat sudah meningkat menjadi 20%.

“Tadinya kami hanya memprediksi hanya 10% saja, tetapi ternyata sudah mencapai 20%,” kata Noviarsyah.

Pemda Pelabuhan Ratu tampaknya juga sudah mempersiapkan daerahnya sebagai tujuan wisata. Pantai Pelabuhan Ratu lebar dan berpasir putih kehitam-hitaman tampak bersih. Sepanjang jalan menyusuri pantai tampak lampu jalanan yang bersinar terang di waktu malam.

Rumah makan dan cafe juga berhias diri. Menurut salah seorang pengelola rumah makan khas sunda, Sari Kartika, mereka menjadikan malam menjelang tahun baru sebagai momentum berbenah diri, tetapi isu tsunami membuyarkan harapan mereka.

Namun, demikian masyarakat Pelabuhan Ratu percaya bahwa isu tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Di samping wisata pantai, Pelabuhan Ratu juga memiliki pemandian air panas, gua kalong, dua tempat pelelangan ikan di Pelabuhan Ratu dan di Cisolok.

Dinas Budaya dan Pariwisata Jabar kepada pers menyatakan sektor pariwisata di daerahnya, termasuk Pelabuhan Ratu, Sukabumi, akan pulih enam bulan ke depan.

Kepala Disbupar Jabar Budhyana mengatakan pada liburan sekolah Juni dan Juli 2005 diharapkan tingkat kunjungan akan meningkat menjadi 50% dan pada liburan dan Natal dan Tahun Baru menjadi 75%.

Pemda Jabar juga mempersiapkan dua jalur menuju Pelabuhan Ratu bagi wisatawan dari Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang dan Bekasi, yakni melalui Cibadak-Cikidang lalu Pelabuhan Ratu.

Jalur alternatif itu lebih ringkas dan dekat dengan jalan yang mulus, meskipun lebar jalan lebih kecil. Jarak tempuh Cibadak, Cikidang dan Pelabuhan Ratu sekitar 40 kilometer atau kurang lebih 45 menit.

Dibandingkan melalui jalur lama yang membutuhkan waktu satu jam lebih, melalui jalur Cikidang, para pengunjung bisa menikmati perkebunan karet, kepala sawit dan teh.

Sumber: Kapanlagi.com 25 Januari 2005

30
Mei
08

Jejak Soekarno di Pelabuhan Ratu

Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima, saat yang tepat untuk menikmati indahnya pantai di sore hari. Namun, langit di atas Pelabuhan Ratu mulai gelap, seperti hari-hari sebelumnya. Bersama dengan beberapa teman wartawan lain, saya memilih mengunjungi Pesanggrahan Pelabuhan Ratu di Desa Citepus, Pelabuhan Ratu.

stana peristirahatan yang menjorok ke pantai itu adalah salah satu peninggalan mantan Presiden Soekarno. Untuk menuju bangunan yang didirikan pada 1962 ini, pengunjung harus mendapat izin dari Sekretariat Negara di Jakarta.

Seorang laki-laki setengah baya menyambut kami. Dengan sebuah motor bebek, Agus Abdullah, laki-laki itu, menggiring mobil yang kami tumpangi dari pos di pintu gerbang menuju bangunan tiga tingkat itu.
Di antara Istana Presiden lainnya, Pesanggrahan Pelabuhan Ratu seluas 1.500 m2 itu terbilang sederhana. Ada enam kamar, dua di lantai tiga dan empat di lantai dua, sementara lantai satu hanya digunakan sebagai gudang. Di lantai dua, ada sebuah ruangan kaca yang lebih menjorok ke laut, sebagian bangunannya berada di atas karang tepi pantai. Di sinilah biasanya diadakan pertemuan atau jamuan makan malam.
Bisa jadi, karena lokasinya yang menjorok ke pantai inilah yang membuat Soekarno jatuh hati pada tempat yang dulunya merupakan tempat peristirahatan Mayor Mantiri bernama Vaya con Dios. Ia pun meminta Mayor Mantiri merelakan tempat seluas 2,8 hektare itu untuk ditukar dengan lahan yang berada di sebelahnya, yang kini dibangun Bayu Amrta.

Meskipun jarang dikunjungi, pesanggrahan ini terawat. Agus Abdullah dan tujuh rekannya setiap hari membersihkan bangunan yang dibangun oleh RM Soedarsono dan F Silaban ini. “Yang terakhir ke sini Ibu Mega (Megawati Soekarnoputri) bersama keluarga, sebulan sebelum beliau lengser,” kata Agus. Sebelumnya, beberapa pejabat pernah mengunjungi tempat ini, antara lain Adam Malik, Sudharmono, Umar Wirahadikusumah, Try Soetrisno, dan Gus Dur. “Habibie pernah lewat, cuma mampir saja,” tutur Agus.

Soekarno sendiri belum sempat menikmati istana ini, karena begitu selesai dibangun ia tengah menghadapi peristiwa politik besar di negeri ini. Dulu, di istana ini tersimpan dua lukisan karya presiden pertama RI itu. “Setelah banyak kolektor lukisan, saya takut, jadi saya usulkan dibawa ke Istana Bogor saja,” jelas Agus.

Pusat Bisnis Judi
Dan kini, tidak ada lagi peninggalan Soekarno di Pesanggrahan Pelabuhan Ratu ini. Yang terlihat hanyalah sisa-sisa kecintaan Soekarno pada sejumlah tempat di Pelabuhan Ratu yang dulunya sempat ia gunakan sebagai tempat persembunyian dari kejaran Belanda pada 1938.
Bersama dengan Ibu Suhartini, pada 1954, Soekarno pernah kembali lagi ke Pelabuhan Ratu untuk meninjau lokasi pembangunan Hotel Samudra Beach, yang sampai kini berdiri kokoh di tepi pantai yang landai, di teluk Pelabuhan Ratu. Di tahun 1962, ia sempat meletakkan batu pertama pendirian hotel pertama di Jawa Barat itu.

Soekarno punya banyak rencana untuk Pelabuhan Ratu. Ketika membangun Hotel Samudera Beach, ia berangan-angan menjadikan hotel itu sebagai pusat bisnis perjudian di Indonesia. Sebuah ruangan seluas 20×8 m di lantai delapan hotel ini telah dipersiapkan untuk menjadi ruang kasino, namanya Domino Room, namun sejak 1980-an ruangan itu berganti nama menjadi Degung Room.
“Ruang itu memang dipersiapkan untuk ruang judi, tapi sekarang sudah tidak dipakai. Hanya sesekali kami menggunakannya untuk rapat,” ungkap Suhartini Tarigan, General Manager Hotel Samudera Beach, Selasa (3/4).

Rasa penasaran membimbing saya menuju lantai delapan, bersama dengan Dedem Dawami, Front Office Manager, yang sudah berkerja untuk hotel itu sejak tahun 1970-an. Kami hanya bisa menggunakan lift sampai lantai ketujuh, selanjutnya kami menaiki tangga darurat. Ketika keluar, kami berada di ruangan dengan peralatan dapur tidak terpakai. Debu yang menempel di situ memperlihatkan bahwa lantai ini sudah lama tidak disentuh. “Dulu peralatan dapur sudah dipersiapkan untuk Domino Room dan Sukaria Room,” ucap Dedem.
Degung Room yang bersebelahan dengan Sukaria Room, yang direncanakan sebagai bar, terlihat tidak pernah digunakan lagi. Karpet yang pernah melapisi lantainya kini tergulung dan diletakkan begitu saja di lantai.

Di sebuah ruangan yang hanya ditutupi gorden, terdapat beberapa tempat tidur yang sudah tidak digunakan lagi. Namun, rancangan bangunan ini memang cocok untuk tempat perjudian.
Ruangannya terbilang lebar, dengan sebuah ruangan yang lebih kecil lagi tersembunyi di balik gorden. Di sebelah kiri pintu masuk, terdapat sebuah bilik yang konon dulunya disiapkan untuk kasir. “Tembok ini antipeluru, cuma kacanya sudah tidak ada,” ujar Dedem sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke tembok yang mengelilingi bilik kecil itu.
Soekarno memiliki angan-angan besar terhadap Pelabuhan Ratu. Hotel Samudera Beach dan Pesanggrahan Pelabuhan Ratu yang dibangun dari harta pampasan perang Jepang. Bangunan itu didirikan sebagai wujud dari cita-citanya.

Ketika Seokarno pertama kali ke tempat itu, lokasi itu tidak berpenduduk, lokasi permukiman terdekat berada sekitar satu kilometer, dengan penduduk yang mayoritas hidup miskin. Perjudian itu rencananya ia bangun untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar, khususnya, dan pemerintah daerah Jawa Barat umumnya.

Akses menuju Pelabuhan Ratu memang tidak mudah (bahkan sampai kini), tapi Soekarno telah mempersiapkan landasan helikopter untuk para tamu yang akan menghabiskan uangnya di tempat itu. Ia juga berencana membuat pelabuhan untuk kapal pesiar yang membawa tamu dari luar negeri ke tempat itu. Soekarno bercita-cita orang-orang dari negeri tetangga memilih tempat ini untuk berjudi, tidak perlu jauh-jauh ke Las Vegas sana.

Sebelum semua terwujud, pemerintahan negeri ini telah berganti. Soekarno tidak lagi punya kuasa untuk melanjutkan proyek Pelabuhan Ratu, bahkan menikmati Pesanggrahan dan Hotel Samudera Beach pun ia belum pernah.
Sekarang, hanya ada jejak peninggalan proklamator kemerdekaan RI itu di sana, itu pun nyaris terlupakan. n

Sumber : (Mila Novita) Sinar Harapan, Pelabuhan Ratu

Sumber Aslinya anda, Klik aja di sini




Jumlah Pengunjung

  • 751,106 Orang

Kalender

November 2014
S S R K J S M
« Nov    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Salam Hormat Dari Administrator.

Tujuan utama Blog ini bukan untuk sarana promosi/iklan melainkan Semata-mata hanya proses pembelajaran penulis dalam mengenal Dunia Blog & Duni Internet. Untuk itu Penulis meminta maaf jika dalam isi terlalu banyak salah dan kekurangan serta mohon maaf yang sebesar-besarnya dan minta ijin kepada administrator Web, Situs atau Blog dan yang lainnya yang merasa jika ada sebagian tulisannya yang penulis sunting di Blog ini. Serta penulis juga meminta ijin kepada pemilik situs, web dan sejenisnya jika dirasa tak nyaman atas tindakan penulis yang ikut sharing atau me-link-kan informasi dari situs, web, Blog dan sejenisnya yang Bapak/Ibu/Sdr Miliki atau prilaku penulis yang tak sesuai dengan etika keilmuan dalam dunia cyber. Terimakasih.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.