06
Jun
08

Rintihan Nelayan Kecil di Desa Terpencil

Bertahan di Tengah Kelangkaan Minyak Tanah, Suatu Tinjauan Atas Kebijakan Kenaikan Harga Minyak Th 2005 Lalu Di Desa Ciwaru, Kec. Ciemas Kab. Sukabumi.

Sumber: Kompas 29 Agustus 2005

Malam belum melampaui pukul sepuluh, Rabu (24/8). Ombak laut di Kampung Palangpang, Sukabumi, Jawa Barat, tidak berdebur keras. Beberapa perahu beleketek menepi menghampiri kumpulan orang di bibir pantai.
Terdengar teriakan-teriakan bernada gembira. Tak lama kemudian, keranjang-keranjang bambu berisi ikan deles berpindah dari badan perahu ke daratan. ”Sudah delapan malam tidak ada ikan,” kata Haji Tuhar (50), juragan nelayan yang memiliki usaha pengolahan ikan asin.
Padahal, berdasarkan kebiasaan musim selama ini, bulan Mei-Agustus adalah saatnya ikan melimpah. ”Perkiraannya meleset,” tutur Tuhar.
Ikan di laut tidak ditanam seperti halnya padi di sawah. Oleh sebab itu, pantas bila para nelayan menganggap ada tidaknya ikan sebagai aturan rezeki dari Tuhan. Namun, di balik kepasrahan tersebut ada keprihatinan mendalam terhadap kerusakan ribuan terumbu karang.
Di bibir pantai menghampar pecahan terumbu karang yang terlempar ombak. Berkurangnya jumlah terumbu karang berhubungan langsung dengan populasi ikan. ”Hasil tangkapan berkurang hingga 50 persen,” kata Tuhar.
Para nelayan menduga kerusakan tempat berlindung ikan itu disebabkan penangkapan ikan hias menggunakan potasium yang berlangsung sejak tahun 1970-an. Masalahnya, penangkapan ikan hias yang didukung surat izin dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi itu dilakukan oleh warga tetangga, yakni dari Kampung Cikadal, Desa Mandrajaya. Hingga kini masalah penangkapan ikan hias tersebut masih menjadi sumber perseteruan antara dua desa terkait.
Kedatangan keranjang-keranjang ikan itu membuat mereka sejenak melupakan masalah. Didorong perasaan gembira, Tuhar turut serta anak buahnya mengangkat keranjang ke dalam gudang pengolahan ikan asin. Malam itu bagang, alat penangkap ikan berupa bangunan bambu dilengkapi jaring dan lampu petromaks milik Tuhar, mampu menghasilkan sepuluh keranjang ikan deles. Satu keranjang berisi sekitar 25 kilogram ikan.
Pada gudang pengolahan yang berdinding bambu, ikan-ikan berwarna hitam keperakan itu ditampung dalam sebuah bak semen berukuran sekitar 2 x 2 meter. Selanjutnya, sumber protein itu direndam larutan garam lebih kurang dua jam. ”Supaya kalau direbus kulitnya tidak pecah,” kata Tuhar menjelaskan.
Perebusan ikan dilakukan pada bak seng yang dipanasi dengan kompor minyak tanah. Ikan-ikan ditata dalam keranjang plastik berbentuk segi empat lalu dipanaskan sekitar lima menit. Pekerja lainnya membawa keranjang-keranjang itu keluar untuk dihamparkan pada waring, yakni tempat menjemur yang terbuat dari kerangka bambu dan rajutan jala.
Bila panas matahari tidak terhalang awan atau hujan, cukup dua hari untuk mengeringkan ikan-ikan itu. Ikan asin produksi Desa Ciwaru dipasarkan ke pedagang-pedagang di Bogor. Jika ikan di laut melimpah, dalam satu minggu satu gudang pengolahan bisa memproduksi sekitar satu ton ikan asin.
Gudang pengolahan
Selain penjualan ikan segar, usaha yang dipelopori almarhum Durmin pada tahun 1970-an itu telah menjadi urat ekonomi yang penting bagi masyarakat Desa Ciwaru. Pada desa yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Palabuhanratu itu terdapat 30-an gudang pengolahan ikan.
Harga ikan sangat fluktuatif, tergantung perolehan para nelayan. Bila melimpah, satu keranjang ikan deles basah bisa jadi hanya dihargai Rp 30.000. Sebaliknya, jika ikan sedang langka, satu keranjang bisa mencapai Rp 80.000-Rp 100.000. Rendemen ikan asin mencapai 40 persen dari basahnya. Satu kilogram ikan deles asin bisa dijual Rp 8.000, sedangkan teri nasi atau lebih dikenal dengan nama teri medan bisa mencapai harga Rp 20.000-Rp 30.000.
Langka minyak
Kini usaha yang mampu menopang ekonomi ratusan warga Ciwaru tersebut terkendala oleh persediaan minyak tanah. Kompor untuk merebus ikan sangat tergantung pada bahan bakar itu. Seorang pekerja, Dudun Suryadi (36), mengatakan, untuk merebus dua kuintal ikan dibutuhkan sekitar 20 liter minyak tanah.
Kebutuhan minyak untuk pengolahan ikan asin bersaing dengan penggunaan minyak untuk lampu petromaks pada bagang. Satu bagang memerlukan sedikitnya empat lampu petromaks. Padahal, terdapat ratusan bagang di wilayah laut Desa Ciwaru. Saat ini pasokan minyak ke daerah tersebut hanya 5.000 liter per minggu. Tentu saja jumlah itu tidak mencukupi.
”Kami sampai mencari ke daerah lain,” ujar Roni Rizal (53), pengusaha ikan asin yang menampung hasil tangkapan 32 nelayan. Roni menambahkan, bila dihitung satuan, harga seliter minyak tanah bisa sampai Rp 1.600. ”Kadang lebih mahal lagi,” ujarnya.
Bahkan, jika membeli minyak tanah di kecamatan tetangga, seperti Jampang Kulon atau Surade, Roni harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transpor sebesar Rp 20.000 per drum dengan kapasitas 200 liter.
Lain lagi upaya Warna (25) dan Asnap (25). Acara menjual ikan keluar kota, seperti Bogor dan Cianjur, bagi mereka menjadi kesempatan berburu minyak tanah. ”Tetapi, belinya enggak bisa banyak-banyak, takut disangka menimbun,” ujar Warna.
Kelangkaan minyak tanah memang menjadi momok menakutkan bagi para pengusaha sekaligus nelayan yang menggantungkan hidup pada laut. Jika bahan bakar itu tidak ada, mereka tidak bisa mengoperasikan bagang dan merebus ikan. Akibatnya, urat nadi ekonomi yang menopang kehidupan ribuan warga itu seperti terputus. Mereka diam di rumah- rumah, mendengar deburan ombak tanpa bisa menangguk kekayaan lautnya.


0 Responses to “Rintihan Nelayan Kecil di Desa Terpencil”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 1,185,288 Orang

Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Salam Hormat Dari Administrator.

Tujuan utama Blog ini bukan untuk sarana promosi/iklan melainkan Semata-mata hanya proses pembelajaran penulis dalam mengenal Dunia Blog & Duni Internet. Untuk itu Penulis meminta maaf jika dalam isi terlalu banyak salah dan kekurangan serta mohon maaf yang sebesar-besarnya dan minta ijin kepada administrator Web, Situs atau Blog dan yang lainnya yang merasa jika ada sebagian tulisannya yang penulis sunting di Blog ini. Serta penulis juga meminta ijin kepada pemilik situs, web dan sejenisnya jika dirasa tak nyaman atas tindakan penulis yang ikut sharing atau me-link-kan informasi dari situs, web, Blog dan sejenisnya yang Bapak/Ibu/Sdr Miliki atau prilaku penulis yang tak sesuai dengan etika keilmuan dalam dunia cyber. Terimakasih.

%d blogger menyukai ini: