CAGAR budaya merupakan salah satu potensi pariwisata yang belum tergali. Jika kondisinya tidak terawat, lalu bagaimana nasib bangunan bersejarah itu? Hal itu juga terjadi di berbagai daerah termasuk Kota Sukabumi. Seperti Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Syahrir di lingkungan Secapa Polri. Meski tergolong terawat, pengelolaannya masih tanda tanya.

Menurut budayawan Sukabumi, Anis Jatisunda, sebenarnya banyak potensi budaya lokal yang bisa menjadi daya tarik pariwisata. Apalagi tahun ini Indonesia mencanangkan “Visit Indonesia 2008” untuk menarik wisatawan mancanegara datang ke Indonesia. Namun, ini memang butuh konsep yang matang karena Kota Sukabumi sendiri tidak memiliki brand image dalam dunia kepariwisataan. Selain itu, juga untuk menjual sesuatu dari pariwisata, seharusnya pihak berwenang bisa menciptakan tradisi lokal yang dijadikan pergelaran akbar sehingga bisa menarik wisa- tawan domestik dan mancanegara.

“Kita tidak mungkin mengandalkan dari wisata alam karena Kota Sukabumi tidak cukup memilikinya. Oleh karena itu, kita harus membuat tradisi lokal bisa menjadi pergelaran akbar yang bisa menarik wisatawan untuk melihatnya,” ujar Anis di kediamannya, Selasa (20/5).

Anis mencontohkan Kp. Sindang Barang Kec. Taman Sari Kab. Bogor, dinilai berhasil dengan mengangkat tradisi lokal menjadi pergelaran akbar. Dengan kampung budaya yang “dibuat” dari pergelarannya hingga setting tempatnya ternyata menarik minat masyarakat. “Masyarakat di sana walaupun pemikirannya tergolong modern, namun masih peduli dengan budaya Sunda. Berbedanya dengan di Kota Sukabumi adalah budaya Sunda seperti gotong royong dan silahturahmi itu mulai memudar,” ujarnya menjelaskan.

Heterogenitas masyarakat dan pengaruh televisi memang berpengaruh besar dalam melunturkan budaya lokal Sunda. Karena masyarakatnya tidak memiliki standar budaya lokal seakan-akan menghilangkan jati dirinya sebagai warga Sunda. “Tidak adanya perasaan memiliki budaya Sunda itulah yang menyebabkan Kota Sukabumi kehilangan image Sundanya. Untuk mengembangkan lagi budaya Sunda, dibutuhkan figur kuat yang memiliki tangan besi yang bisa mengangkat ikon-ikon Sukabumi,” katanya.

Untuk mencari image Kota Sukabumi itu, kata Anis, seharusnya pemerintah kota mampu melihat cagar budaya sebagai potensi pariwisata yang ujung-ujungnya mampu meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Tanpa ada political will dari pemerintah, ia pesimistis ke depannya Kota Sukabumi memiliki brand image dan memiliki pariwisata budaya. “Semua itu kembali lagi kepada political will pemkot terhadap pengembangan budaya. Kita memang masih harus banyak belajar dari daerah lain dalam mengembangkan wisata budaya,” tegasnya. ( dikutip dari Pikiran-Rakyat, 24 Mei 2008 )


0 Responses to “>> Sukabumi harus banyak belajar”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 1,185,288 Orang

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Salam Hormat Dari Administrator.

Tujuan utama Blog ini bukan untuk sarana promosi/iklan melainkan Semata-mata hanya proses pembelajaran penulis dalam mengenal Dunia Blog & Duni Internet. Untuk itu Penulis meminta maaf jika dalam isi terlalu banyak salah dan kekurangan serta mohon maaf yang sebesar-besarnya dan minta ijin kepada administrator Web, Situs atau Blog dan yang lainnya yang merasa jika ada sebagian tulisannya yang penulis sunting di Blog ini. Serta penulis juga meminta ijin kepada pemilik situs, web dan sejenisnya jika dirasa tak nyaman atas tindakan penulis yang ikut sharing atau me-link-kan informasi dari situs, web, Blog dan sejenisnya yang Bapak/Ibu/Sdr Miliki atau prilaku penulis yang tak sesuai dengan etika keilmuan dalam dunia cyber. Terimakasih.

%d blogger menyukai ini: